Senin, 26 Maret 2012

Perjalanan Nabi SAW di Dalam Mimpi

            Telah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW, usai shalat subuh berjamaah, beliau menghadapkan wajah kepada para sahabat dan berkata, “Siapakah di antara kalian yang bermimpi tadi malam?”
            Siapa saja yang bermimpi, mereka akan menceritakannya kepada Nabi SAW, dan beliau akan memberikan tanggapan dan komentar seperlunya, misalnya, beliau akan berkata “Masyaa Allah!!”
            Suatu ketika beliau bertanya seperti biasanya, tetapi tampaknya tidak ada yang bermimpi pada malam itu. Nabi SAW justru berkata, “Tetapi aku bermimpi semalam…!!”
            Kemudian Nabi SAW menceritakan bahwa ada dua orang mendatangi beliau dan mengajak beliau menuju bumi yang suci (al-Ardhul Muqaddasah, mungkin maksudnya Baitul Makdis di Yerusalem, atau mungkin bumi lainnya lagi). Dalam perjalanan itu beliau melihat pemandangan dua orang, satu orang duduk satunya lagi berdiri sambil membawa sepotong besi berkait (kalub). Lelaki yang berdiri itu menancapkan kalub ke pipi orang yang duduk, dari kedua sisinya sehingga kedua pipinya itu menyatu. Ketika dilepas, pipinya itu kembali seperti sediakala, dan lelaki yang berdiri itu mengulangi lagi perbuatannya. Begitu seterusnya berulang-ulang.
            Ketika Nabi SAW bertanya, “Apakah ini?”
            Dua orang itu berkata, “Teruslah berjalan!!”
            Maka beliau meneruskan perjalanan lagi. Dan sekali beliau melihat suatu pemandangan, satu orang tidur terlentang, dan satunya lagi berdiri sambil memegang batu besar. Orang yang berdiri itu melemparkan batu ke kepala orang yang tidur hingga pecah berantakan, dan ia mengambil lagi batu itu. Ketika ia berdiri kembali di tempat semula, kepala orang yang tertidur itu telah utuh lagi seperti sediakala. Dan lelaki itu kembali melemparkan batu ke kepala yang tertidur, begitu terjadi berulang-ulang. 
            Ketika Nabi SAW bertanya, “Siapakah ini?”
            Dua orang itu berkata, “Teruslah berjalan!!”
            Nabi SAW berjalan lagi diikuti dua orang itu. Dan beliau melihat suatu lubang semacam tungku, atasnya sempit, bawahnya lebar, dan di dalamnya ada api yang menyala-nyala dan sekumpulan orang, lelaki dan perempuan yang telanjang. Api itu terus membara dan mendorong orang-orang itu ke atas. Tetapi ketika mereka hampir terlempar ke luar dari lubang tersebut, api itu padam dan mereka jatuh lagi ke dasar lubang. Mulailah api menyala lagi, dan berulang lagi seperti sebelumnya.
            Ketika Nabi SAW bertanya, “Siapa pula mereka ini?”
            Dua orang itu berkata, “Teruslah berjalan!!”
            Nabi SAW meneruskan perjalanan, hingga beliau sampai pada sebuah sungai darah. Di dalam sungai itu ada seseorang yang berusaha keluar, berjalan atau berenang ke tepian. Tetapi di tepian telah menunggu seseorang lainnya dengan sebuah batu cukup besar di tangannya. Setiap kali orang pertama hampir tiba di tepian, orang kedua melemparkan batunya tepat mengenai mulut orang yang di dalam sungai itu sehingga ia terlempar lagi ke tengah sungai, sementara batu itu seperti memantul dan ditangkap lagi oleh orang yang di pinggir sungai.  Begitulah berulang-ulang terjadi.
            Nabi SAW berkata, “Siapa pula itu?”
            Dua orang itu berkata, “Teruslah berjalan!!”
            Mereka bertiga meneruskan perjalanan meninggalkan sungai darah, hingga tiba di suatu kebun yang menghijau indah. Dalam kebun itu ada sebatang pohon besar di mana pada pangkal atau pokok pohonnya ada seorang lelaki tua dengan beberapa orang anak. Seorang lelaki lain tampak sedang menyalakan api di hadapan lelaki tua tadi, juga tidak jauh dari pohon tersebut.
            Dua orang lelaki tadi membawa Rasulullah SAW menaiki pohon tersebut, dan terus memasuki suatu rumah yang begitu indah. Belum pernah rasanya Nabi SAW melihat rumah yang seindah itu. Di dalam rumah tersebut, beliau melihat cukup banyak orang, baik laki-laki atau perempuan, pemuda ataupun anak-anak. Kemudian kedua lelaki itu kembali mengajak Nabi SAW berlalu, naik menuju suatu rumah yang jauh lebih indah lagi daripada rumah sebelumnya yang beliau kunjungi. Di dalam rumah tersebut tampak beberapa orang lelaki dewasa dan para pemuda.
Rumah tersebut tampaknya pemberhentian terakhir dari perjalanan Nabi SAW karena sampai beberapa waktu lamanya mereka tidak lagi mengajak beliau pergi, dan beliau sendiri cukup nyaman berada di rumah itu. Nabi SAW bersabda, “Wahai tuan-tuan, kalian telah membawa aku berjalan berkeliling malam ini, sekarang tolong dijelaskan kepadaku semua pemandangan yang telah kulihat itu.
Maka dua lelaki itu berganti-ganti memberikan perjelasan, salah satu dari mereka berkata, “Adapun orang yang pipinya ditusuk dengan besi berkait (kalub) hingga menyatu, dia itu adalah pembohong. Ia menceritakan suatu kebohongan, dan diterima, kemudian kebohongan itu menyebar kemana-mana. Begitulah ia akan diperlakukan (disiksa) hingga hari kiamat tiba…!!”
Salah satunya lagi berkata, “Sedangkan orang yang engkau lihat tidur terlentang dan kepalanya dihantam dengan batu hingga pecah berantakan, dia adalah orang yang oleh Allah diajarkan Al Qur’an kepadanya, tetapi ia tidur saja di malam hari dan tidak pernah mengamalkannya di siang hari. Begitulah mereka diperlakukan (disiksa) hingga hari kiamat tiba!!”
Salah satunya lagi berkata, “Adapun orang-orang yang engkau lihat berada di dalam lubang semacam tungku, yang berisi api yang membara dan menggelegak, mereka itu adalah para pezina. Sedangkan orang yang berenang di sungai darah dan dilempar batu tepat pada mulutnya, mereka adalah para pemakan riba. Begitulah mereka akan disiksa hingga hari kiamat tiba!!”
Salah satu dari mereka berkata lagi, “Orang tua yang engkau lihat di pokok pohon adalah Nabi Ibrahim AS, dan anak-anak yang berada di sekitarnya adalah anak-anak dari orang banyak. Lelaki yang menyalakan api di dekat pohon adalah Malaikat Malik, penjaga neraka. Rumah yang pertama-tama engkau masuki adalah rumah umum kaum muslimin (yang selamat), sedang rumah ini adalah khusus untuk para syuhada’!!”
Nabi SAW terkagum-kagum mendengar penjelasan tersebut, sedih bercampur gembira. Sedih karena beberapa siksaan yang akan dialami oleh beberapa dari umat beliau, senang karena merasakan keindahan dua rumah yang disediakan bagi umat beliau juga. Kemudian salah seorang dari mereka berkata lagi, “Saya adalah Jibril dan kawan saya ini adalah Mikail. Tolong engkau angkat kepala engkau!!”
Nabi SAW mengangkat kepalanya, dan beliau melihat semacam awan yang di atasnya terdapat suatu rumah yang sangat-sangat indahnya, jauh lebih-lebih indah daripada rumah yang beliau tempati saat itu.
Malaikat Jibril berkata, “Itulah tempat tinggal engkau!!”
Nabi SAW berkata, “Biarkanlah aku ke sana sekarang!!”
Jibril berkata lagi, “Sekarang masih ada sisa usia engkau, nanti jika telah tiba masanya, engkau akan pergi ke tempat itu dan tinggal di dalamnya!!”
Setelah itu Nabi SAW terbangun dari mimpi beliau. Para sahabat yang berjamaah subuh pada hari itu sangat gembira mendengar cerita mimpi beliau tersebut. Mereka makin menggencarkan amal-amal kebaikan mereka, khususnya makin menggelorakan semangat berjihad, dan menghindarkan diri dari berbagai macam kemaksiatan, khususnya yang telah diceritakan dalam mimpi beliau tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar